Selamat Tinggal Adidaya

Posted November 15th, 2010 at 6:58 am (UTC+0)
6 comments

Presiden Barack Obama melambaikan tangan setelah selesai menyampaikan kuliah umum di Universitas Indonesia, 10 November 2010.

Kasihan Presiden Obama. Letih belum terobati dari kunjungannya ke Asia, sudah harus menangkis berbagai kritik dalam negeri yang menuduh bahwa lawatan ini tidak produktif dan pemborosan semata. Selama kunjungannya pun khususnya di forum G-20 Seoul, Presiden Obama harus menelan kenyataan pahit bahwa AS Amerika bukan lagi superpower bahkan mungkin sudah didepak keluar dari klub adidaya dunia.

Sadar akan keresahan rakyat Amerika yang gerah dengan defisit dan tingkat pengangguran yang terus tinggi, Gedung Putih mem-branding kunjungan ke Asia ini sebagai upaya membuka pasar bagi produk Amerika sehingga menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Tampak betapa seminggu kemarin Presiden Obama mengemban tugas menjadi “salesman-in-chief” untuk promosi bisnis Amerika. Di India, cukup berhasil. Tercapai sekitar 20 kesepakatan bisnis antara perusahaan AS dan India yang menurut Gedung Putih mencapai nilai total 10 milyar dolar. Namun sukses di India tak bisa diikuti di Korea Selatan. Presiden Obama yang dianggap simpatik ini tak mampu meyakinkan Seoul untuk membuka pasarnya bagi daging sapi dan otomotif AS yang juga bisa membawa tambahan ekspor senilai 10 milyar dolar bagi AS. Bahwa kesepakatan yang tercantum dalam agenda kunjungan kenegaraan tak tercapai, tentu menjadi suatu tamparan politik dan diplomatik bagi Obama.

Lalu isu mata uang China. Selama ini AS mengeluh China memelihara nilai mata uang Yuan di tingkat terlalu rendah, sehingga produk ekspor China di pasar internasional murah. Di forum G-20 Presiden Obama gagal menekan Presiden Hu Jintao untuk mengubah kebijakan ini dan gagal meyakinkan pemimpin G-20 lainnya untuk menggunakan bahasa yang lebih tegas mengenai isu mata uang ini dalam komunike bersama. Justru langkah pelonggaran Bank Sentral AS yang menyuntikkan 600 milyar dolar dituduh sebagai suatu bentuk manipulasi mata uang. Di akhir forum G-20, Obama gagal memperoleh dukungan untuk mengambil langkah tegas mengatasi defisit perdagangan AS dengan China yang kini mencapai 227 milyar dolar.

Intinya? Meski populer sebagai pribadi, bahkan seorang Obama pun tak mampu mengubah realita politik internasional bahwa perimbangan kekuasaan telah bergeser. Pamor dan daya AS makin menyurut. Pemerintah dan warga Amerika harus menyesuaikan diri dengan kenyataan ini.

*Blog ini berisi opini penulis yang tidak mencerminkan pendapat maupun posisi editorial VOA.

RSS Comments on:

  • An error has occurred, which probably means the feed is down. Try again later.

6 responses to “Selamat Tinggal Adidaya”

  1. Lala says:

    ya..keadaan emang begitu pahit untuk AS. kemunduran ekonomi yang terjadi di AS akibat sistem ekonomi yg telah dipakainya yg notabene menggunakan sistem ekonomi kapitalis membuat kacau dan terjadi banyak pengangguran. menurut saya, perlu adanya perubahan dari segi kebijakan sistem ekonomi yg digunakan.

  2. gonzo says:

    secara ekonomi amerika bukan lagi suatu kekuatan,dan itu akan berimbas pada kebijaksanaan politik luar negerinya

  3. Rosita says:

    Amerika hrs sadar akan adanya kekuatan baru,yaitu China yg mengalami booming ekonomi dan Eropa dgn Euro nya,tp di masa yg akan datang AS masihlah tetap dominan krn kepentingan Yahudi yg sgt besar di belakang lobi2nya.

  4. Gesang Putro Liem says:

    Amerika adalah negara yang sudah berada di puncaknya…..tidak ada jalan lagi untuk naik……hanya bisa bertahan…atau turun……dan saya yakin…Amerika akan berhasil untuk tetap di puncaknya….bertahan……Bravo Amerika…semoga Indonesia bisa cepat meyusul di puncak….yes we can….if we want….

  5. Teddy Lesmana says:

    Korea tentu saja tidak mau membuka pasarnya bagi produk daging dan automotif Amerika. Saya masih ingat ketika di Seoul 2008 ada demo besar-besaran di depan Kedubes AS di Seoul soal import daging dari Amerika. Untuk soal automotif apalagi, lha Korea juga produsen automotif, malah kalo bisa Amerika yang beli produk mereka. Hanya negara lemah saja yang masih menganut ideologi Gayuisme dan Gayuisconomics yang masih suka mendramatisasi nostalgia masa lampau Obama di Jakarta. Bagi Amerika, mungkin ngga ada benefitnya langsung dari Indonesia kecuali aliran SDA yang terus dikeruk dari bumi Indonesia.

    Satu lagi, negara Gayuisnesha masih suka membesar-besarkan hal yang ngga penting macam Twitter dan insiden salaman sang Menkominfo.

  6. Saumi says:

    Kalau menurut saya, US tetap akan memimpin dunia dalam beberapa dekade mendatang! US still have a friends in Europe. Sekutu terdekat US, UK beserta persemakmurannya akan terus bekerja sama menjaga tatanan dunia global! China mungkin menjadi bangsa paling bersinar tahun ini, tapi ingat, China belum pernah mengalahkan siapapun dalam hal militer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *