Politik Jedar Jedor

Posted January 11th, 2011 at 1:30 pm (UTC+0)
Leave a comment

Seorang polisi berjalan di depan rumah Jared Lee Loughner di Tucson, Arizona, Sabtu, 8 Januari 2011 (AP Photo/Matt York).

Seorang polisi berjalan di depan rumah Jared Lee Loughner di Tucson, Arizona, Sabtu, 8 Januari 2011 (AP Photo/Matt York).

Pembunuhan politik bukan fenomena yang biasa terjadi di Amerika Serikat. Menjadi politisi di negara ini masih relatif aman, resiko ancaman fisik paling banter hanya menjadi sasaran lemparan sepatu seperti yang terjadi pada Presiden Bush tahun 2009. Itupun terjadinya di luar negeri, tepatnya di Irak. Politisi di AS umumnya masih nyaman bersalaman dengan rakyat, mencium bayi konstituen, makan hamburger bersama. Tidak seperti negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan dan Bangladesh di mana pembunuhan merupakan resiko pekerjaan politisi. Di Amerika Serikat, percobaan pembunuhan terakhir kali terjadi di masa Presiden Ronald Reagan tahun 1981.

Namun, kejadian Sabtu kemarin menunjukkan berbeda. Ketika tengah bersilaturahmi dengan warga di lapangan parkir sebuah supermarket di Tucson, anggota DPR asal negara bagian Arizona Gabbrielle Gifford menjadi sasaran penembakan jarak dekat ala gangster. Pelakunya melepas tembakan dengan membabi-buta, menewaskan enam orang termasuk seorang hakim dan anak perempuan usia sembilan tahun. Sembilan-belas orang luka-luka. Gabbrielle Gifford sendiri terkena tembak di kepala dan saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Foto tersangka Jared Lee Loughner yang dirilis oleh Kantor Sheriff Pima County (AP Photo/Pima County Sheriff's Dept. via The Arizona Republic)

Foto tersangka Jared Lee Loughner yang dirilis oleh Kantor Sheriff Pima County (AP Photo/Pima County Sheriff's Dept. via The Arizona Republic)

Tersangka pelakunya yang kini dalam tahanan adalah Jared Loughner, seorang pemuda yang baru berusia 22 tahun. Belum jelas apa motif penembakan ini namun belakangan muncul beberapa video buatan Loughner di YouTube, yang menunjukkan sentimen anti-pemerintah. Beberapa rekan sekolahnya memberikan gambaran Jared sebagai pria yang tidak stabil. Aparat tengah menyelidiki apakah Jared bertindak sendiri dan apakah penembakan ini terkait dengan berbagai ancaman yang diarahkan ke Gabbrielle Gifford ketika Undang-Undang Reformasi Layanan Kesehatan tengah ramai diperdebatkan.

Simak segmen ‘Pojokan DC’ di Delta FM berikut ini bersama Patsy Widakuswara dan Farhan:

UU Reformasi Kesehatan merupakan agenda ambisius Partai Demokrat yang baru tercapai di bawah pemerintahan Obama. Intinya adalah jaminan pemerintah agar setiap warga AS mendapatkan layanan kesehatan, termasuk warga yang tidak mampu membeli asuransi. Sebelum UU ini disahkan Maret tahun lalu, AS merupakan satu-satunya negara maju di dunia yang tidak menyediakan layanan kesehatan gratis bagi warganya. Presiden Obama sendiri merupakan pendukung agenda ini, antara lain karena pengalaman pribadinya menyaksikan perjuangan ibunya meninggal dunia akibat kanker. Namun kubu Republik dan kelompok Konservatif sangat menentang UU ini yang menurut mereka adalah contoh keterlibatan pemerintah yang berlebihan dalam hidup rakyat.

Secara sederhana, dikotomi politik Amerika bisa dibedakan menjadi kubu Liberal dan Konservatif. Secara fiskal, kubu Liberal ingin pemerintahan besar yang erat terlibat dalam hidup rakyat, mengenakan pajak untuk berbagai program kesejahteraan bagi warga miskin yang membutuhkan. Sedangkan kubu Konservatif ingin /small government/, di mana pemerintah tak banyak terlibat, meminimalkan penarikan pajak dan melepas kesejahteraan rakyat pada mekanisme kapitalisme pasar. Secara sosial pun ada perbedaan keduanya, kubu Liberal biasanya lebih permisif dalam issu-issu seperti pernikahan sesama jenis dan hak perempuan untuk aborsi sementara kubu Konservatif cenderung menilai hal-hal seperti itu melanggar moral dan agama.

Penembakan Gabbrielle Gifford ini merupakan perkembangan terakhir dalam pertarungan retorika politik Amerika yang makin sengit di bawah pemerintahan Obama, apalagi jika terbukti motif penembakan ini berdasarkan politik. Yang membuat issu ini semakin panas adalah tudingan sebagian pihak bahwa kejadian ini dipicu oleh provokasi seorang politisi konservatif Sarah Palin, mantan calon wakil Presiden gandengan John McCain yang dikalahkan pasangan Obama-Biden dalam pemilu presiden 2008. Dalam kampanyenya menentang Reformasi Layanan Kesehatan yang diusung Obama, di situsnya Sarah Palin memasang gambar peta AS di mana distrik-distrik yang dikuasai politisi Demokrat pendukung reformasi ini dipasangi simbol bidikan senapan. Nama para politisi ini, termasuk Gabbriele Gifford dimasukkannya dalam ‘daftar sasaran’. Sarah Palin juga menggunakan kata-kata provokatif seperti “reload”.

Yang sekarang sedang hangat dibahas di blogosphere dan jejaring pertemanan adalah apakah retorika Sarah Palin ini menjadi pemicu tindak kekerasan tersebut. Melalui facebook Sarah Palin menyampaikan belasungkawa atas penembakan ini, yang segera disambut ribuan komentar, baik mereka yang mendukung maupun menyalahkannya. Juru bicara kubu Palin sendiri menyatakan sangat tidak masuk akal jika Sarah Palin disalahkan, menurutnya simbol tersebut bukan lambang bidikan senapan melainkan simbol lokasi peta.

Kasus ini dipastikan akan terus berkembang minggu ini, membuat kedua kubu semakin. Presiden Obama telah menyerukan agar bangsa Amerika bersatu dan saling mendukung di tengah tragedi ini.

Salam dari Washington.

*Blog ini berisi opini penulis yang tidak mencerminkan pendapat maupun posisi editorial VOA.

RSS Comments on:

  • An error has occurred, which probably means the feed is down. Try again later.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Calendar

January 2011
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31