Nostalgia Unjuk Rasa

Posted January 31st, 2011 at 8:14 pm (UTC+0)
3 comments

Para mahasiswa yang berkumpul di halaman gedung MPR/DPR, Jakarta, merayakan pengunduran diri Presiden Suharto, Kamis, 21 Mei 1998(AP Photo/Bullit Marquez).

Para mahasiswa yang berkumpul di halaman gedung MPR/DPR, Jakarta, merayakan pengunduran diri Presiden Suharto, Kamis, 21 Mei 1998(AP Photo/Bullit Marquez).

Seminggu belakangan ini, saya mengamati gerakan pro-demokrasi di Mesir membuat saya nostalgia gerakan reformasi Indonesia tahun 1998. Saat itu saya tahun terakhir kuliah di Hubungan Internasional FISIP-UI, dan beruntung sekali punya pengalaman ikut demo dan ambil bagian dalam rangkaian kejadian yang mengubah sejarah negeri kita. Banyak kenangan-kenangan manis, dapat kenalan baru dari kampus-kampus lain, bekerja menjadi fixer untuk stasiun TV asing, dan menginap di gedung DPR-MPR sambil makan nasi bungkus kiriman warga yang simpati dengan gerakan reformasi. Saya harap transisi relatif mulus yang kita alami bisa juga dialami saudara-saudara kita di Mesir.

Bagi pemerintahan Obama, situasi di Mesir merupakan batu ujian politik luar negeri. Sejauh ini Washington menyatakan tidak mau memihak, hanya mendukung tuntutan reformasi dan demokratisasi namun tidak menyerukan lengsernya Presiden Hosni Mubarak. Tampak jelas kehati-hatian Washington, mengingat Presiden Mubarak adalah sekutu dekat AS. Bayangkan, setiap tahunnya AS memberi bantuan ekonomi dan militer senilai 1,5 milyar dolar ke pemerintahan Mubarak. Mubarak dianggap berjasa atas bantuannya saat Perang Teluk pertama melawan Saddam Hussein. Mubarak juga tokoh kunci dalam perundingan Israel-Palestina, dan menjadi benteng antara Israel dan negara-negara Arab. Secara geografis Mesir juga sangat penting, karena menguasai terusan Suez yang merupakan jalur perairan penting bagi perekonomian dunia.

Rakyat berdemonstrasi di Kairo, Senin (1/31). Golongan oposisi menggalang aksi demonstrasi yang ditargetkan mampu mengumpulkan satu juta orang untuk menuntut pengunduran diri Presiden Hosni Mubarak.

Rakyat berdemonstrasi di Kairo, Senin (1/31). Golongan oposisi menggalang aksi demonstrasi yang ditargetkan mampu mengumpulkan satu juta orang untuk menuntut pengunduran diri Presiden Hosni Mubarak.

Saat ini tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di Mesir, termasuk pemerintah AS. Kekhwatiran utama bagi AS tentunya apabila ternyata di balik gerakan rakyat ini muncul kekuatan politik yang anti Barat dan anti Israel. AS juga ingat pengalaman masa lalu ketika Presiden George W. Bush mendesak demokratisasi di jazirah Arab, dan ternyata Hamas menang pemilu di Jalur Gaza.

Dengarkan  segmen ‘Pojokan DC’ di Delta FM bersama Patsy dan Farhan:

Meski tampak hati-hati, sikap Washington ini jauh lebih suportif dibanding saat gerakan anti-pemerintahan Ahmadinejad tahun 2009-2010 lalu. Saat itu Washington memilih diam hingga akhirnya unjuk rasa habis dibungkam pemerintah Iran.

Seperti yang kita rasakan sebagai warga Indonesia, mengisi kemerdekaan dan melanjutkan perjuangan reformasi jauh lebih sulit daripada menggulingkan seorang diktator.  Saya harap warga Mesir, dan warga lain di Timur Tengah bisa menemukan jalan yang terbaik.

Salam dari Washington!

*Blog ini berisi opini penulis yang tidak mencerminkan pendapat maupun posisi editorial VOA.

3 Responses to “Nostalgia Unjuk Rasa”

  1. 21johan says:

    haha,,
    saya jadi merasa bernostalgia banget.. saat-saat dimana saya masih sangat kecil,bermunculan dari masa itu ke ingatan ini..
    bagaimana tidak, nasibnya Mesir sama seperti indonesia kala itu,,
    presiden nggak ada batasnya menduduki jabatannya selama beberapa dekade, ditambah banyak penyelewengan karena rakyat udah betah,,
    nah sekarang akibatnya,,

  2. rona says:

    waktu kejadian 1998, na masih SD, tapi na ingat bgt kejadian itu, mirip dengan yang di mesir memang (tapi bukan yang pertama, karena orla juga jatuh dengan cara yang sama). Wish all the best for Egypt, n trus berjuang untuk menciptakan negara yang lebih baik, karena begitu Husni Mubarak turun, itu baru awal perjuangan mereka!!

  3. WebGoogler says:

    The people of Egypt and Tunisia have spoken. It’s time for our voice to be heard. The year is 2012. The happening: “a-million-man march to save Indonesia”. Millions of Indonesians are marching peacefully on the streets of Jakarta. 2 Millions approximately. Most, college students. All, wearing red shirts and headbands. Thousands, waiving the national flags. Many, singing Indonesia Raya: the nation’s anthem. As far as the eyes can see: the sea of RED, the symbol of Blood and Bravery. Many have tears rolling down their cheeks. Their hearts are aching and longing for change. Thousands come from places far away, most from places nearby. The young and old, the rich and poor, the educated and uneducated, they all gather peacefully joining hands in unity. Their hearts are crying out for a new beginning. Their minds are united in one goal. Their goal is simple: TO SAVE INDONESIA: the most beautiful country in the continental Asia; the friendliest people on earth, the blessed nation.The question now is: Will you be there? – - The Date: August 17, 2012 – - The Theme: “Save Our Nation from Corruption and Destruction” – - The Time: 9 am – 5 pm – -The Place: Monas – the National Monument, Jakarta – - The Speakers: TBA (to be announced) – - The Attire: Red shirts/T-shirts, red hats, red headbands, red flags – - What to bring: Pocket money, a day supply of bottle water, a day supply of non-perishable food, basic medical and first-aid kit, plastic bags (for your own trash disposal, you come with them, you leave with them, please leave Jakarta clean) – -There will be more details to come! – - PS: please spread the news by sending this entire post to major universities and colleges across Jakarta, Java, and Indonesia. Tweet it, facebook it, youtube it, copy it, paste it, translate it! Get involved! Our future as a nation is at stake! Remember the keyword here is: PEACEFULLY. Let’s make this a reality. Thank you very much! May God bless you and May God bless Indonesia!

Leave a Reply