Kesempatan dalam Krisis Mesir

Posted February 3rd, 2011 at 9:40 pm (UTC+0)
1 comment

Para wartawan asing menyimak pidato Presiden Hosni Mubarak di sebuah hotel di Kairo, Selasa (2/2). Dalam pidato ini, Mubarak mengumumkan ia tidak akan mencalonkan diri lagi pada pemilu berikut di bulan September (AP Photo/Lefteris Pitarakis).

Para wartawan asing menyimak pidato Presiden Hosni Mubarak di sebuah hotel di Kairo, Selasa (2/2). Dalam pidato ini, Mubarak mengumumkan ia tidak akan mencalonkan diri lagi pada pemilu berikut di bulan September (AP Photo/Lefteris Pitarakis).

Pada hari Rabu, 2 Februari, kemarin Presiden Barack Obama memalingkan wajahnya dari sekutu terkuat di jazirah Arab dengan mengutuk kekerasan antara pendukung Presiden Hosni Mubarak dan demonstran yang merebak menjadi bentrok berdarah di Kairo dan menyerukan agar Presiden Mubarak mempercepat proses transisi kekuasaan.

Selama dua minggu ini, menarik untuk melihat evolusi posisi pemerintah Obama mengikuti krisis yang berkembang begitu cepatnya bahkan dalam hitungan jam, bukan hari.

Minggu, 29 Januari, utusan khusus Gedung Putih, mantan Dubes AS untuk Mesir Frank Wisner yang kenal dekat secara pribadi dengan Presiden Mubarak dikirim ke Kairo. Menurut laporan beberapa media ketika Wisner berangkat, belum jelas apa pesan Gedung Putih yang harus disampaikannya pada Mubarak, dan baru dalam beberapa kali hubungan telepon selama perjalanan pesawat terbang ke Kairo, diputuskan bahwa Wisner akan menyampaikan pada Mubarak agar tidak ikut pemilu mendatang dan segera menyiapkan transisi politik secara teratur.

Frank Wisner betermu Mubarak pada hari Senin, yang pada hari Selasa kemudian berpidato menyatakan tidak akan lagi mencalonkan diri dalam pemilu September mendatang, bukan lengser sekarang. Tak lama kemudian Presiden Obama menelpon Presiden Mubarak lalu menyampaikan pidato. Ia tampak hati-hati dan tidak menyatakan Presiden Mubarak seharusnya turun segera dan menekankan bukan tempatnya AS atau negara manapun untuk menentukan pemimpin Mesir, namun menekankan bahwa proses transisi harus melibatkan semua suara dan kubu oposisi Mesir. Hal ini kemudian dijabarkan oleh Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs sebagai ‘termasuk kelompok non-sekuler’ (kelompok Ihwanul Muslimin).

Tak lama kemudian kekacauan merebak di Kairo antara massa pro dan anti-Mubarak. Pada saat yang sama, Kementerian Luar Negeri Mesir merilis pernyataan menolak seruan Barat agar Mubarak segera mundur dan bahwa pihak asing memicu kerusuhan dalam negeri Mesir.

Para demonstran anti-pemerintah menonton pidato Presiden Obama dari Washington, DC, yang memberikan reaksinya atas perkembangan terbaru di Mesir, Rabu (2/2), (AP Photo/Lefteris Pitarakis)

Para demonstran anti-pemerintah menonton pidato Presiden Obama dari Washington, DC, yang memberikan reaksinya atas perkembangan terbaru di Mesir, Rabu (2/2), (AP Photo/Lefteris Pitarakis)

Washington kalang-kabut menentukan posisinya terhadap Mesir. Di satu pihak, AS tentu ingin stabilitas demi menjaga kepentingannya di kawasan, terutama menyangkut keamanan dan masa depan Israel, pemberantasan terorisme dan kelompok fundamentalis, serta kepentingan ekonomi berkaitan dengan lancarnya transportasi 40 persen minyak dunia yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara melewati Terusan Suez. Di pihak lain, AS tak bisa kelihatan ketinggalan kereta di tengah gerakan reformasi dunia Arab, dan harus bergerak sekarang untuk memastikan bahwa perjuangan rakyat Mesir ini tidak kemudian diambil-alih oleh kelompok fundamentalis yang bertujuan menciptakan pemerintahan represif dan tidak bersahabat dengan Barat.

Banyak pihak menuduh pemerintahan Obama selalu terlambat selangkah dalam mengikuti krisis Mesir. Ada analisa yang menyatakan bahwa hal ini disengaja, Gedung Putih sengaja menunjukkan bahwa kebijakan mereka bersifat responsif dan bukan mendikte situasi di lapangan. Itu sebabnya mereka memilih terminologi “transisi teratur yang harus dimulai sekarang”, terminologi longgar yang bisa diartikan berbagai cara, dan bukan tuntutan tegas seperti “Mubarak harus mundur sekarang.” Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa gerakan ini murni milik rakyat Mesir dan bukan tunggangan Barat.

Tapi, Barack Obama bukan cuma sekedar penonton. Harus diingat bahwa ialah yang berpidato di Kairo menekankan pentingnya sistem pemerintahan yang mencerminkan kehendak rakyat. Meski bukan Barak Obama yang menanam benih reformasi di Mesir, namun menurut saya, ia turut ‘menyiram’ benih yang sekarang menjadi gerakan yang merebak pecah.

Lebih dari sekedar putus hubungan dengan sekutu dekat di Timur Tengah, krisis Mesir ini merupakan taruhan besar bagi kepentingan AS. Dengan merebaknya revolusi rakyat di berbagai negara Arab: Tunisia, Mesir, Yaman, pemerintah AS cemas kerusuhan akan dimanfaatkan oleh kubu radikal seperti Al-Qaida dan melemahkan operasi kontra teror AS di kawasan. Namun sebaliknya, jika demo di jalan ini dapat mewujudkan transisi damai menuju pemerintahan pluralistik dan sekuler, hal ini akan melemahkan argumen Al-Qaida bahwa satu-satunya jalan menggulingkan pemerintahan-pemerintahan Arab yang otoriter dan pro-Barat adalah dengan melancarkan jihad berdarah. Pemerintahan-pemerintahan baru di Timur Tengah yang demokratis, non-represif akan membuka lembaran baru bukan hanya bagi rakyat Timur Tengah namun juga bagi hubungan Islam dan Barat.

Bagaimana menurut Anda?

*Blog ini berisi opini penulis yang tidak mencerminkan pendapat maupun posisi editorial VOA.

One Response to “Kesempatan dalam Krisis Mesir”

  1. WebGoogler says:

    [Watch trailer at http://www.youtube.com/watch?v=0LQYhyX0h1Y The people of Egypt and Tunisia have spoken. It’s time for our voice to be heard. The year is 2012. The happening: “a-million-man march to save Indonesia”. Millions of Indonesians are marching peacefully on the streets of Jakarta. 2 Millions approximately. Most, college students. All, wearing red shirts and headbands. Thousands, waiving the national flags. Many, singing Indonesia Raya: the nation’s anthem. As far as the eyes can see: the sea of RED, the symbol of Blood and Bravery. Many have tears rolling down their cheeks. Their hearts are aching and longing for change. Thousands come from places far away, most from places nearby. The young and old, the rich and poor, the educated and uneducated, they all gather peacefully joining hands in unity. Their hearts are crying out for a new beginning. Their minds are united in one goal. Their goal is simple: TO SAVE INDONESIA: the most beautiful country in the continental Asia; the friendliest people on earth, the blessed nation.The question now is: Will you be there? – - The Date: August 17, 2012 – - The Theme: “Save Our Nation from Corruption and Destruction” – - The Time: 9 am – 5 pm – -The Place: Monas – the National Monument, Jakarta – - The Speakers: TBA (to be announced) – - The Attire: Red shirts/T-shirts, red hats, red headbands, red flags – - What to bring: Pocket money, a day supply of bottle water, a day supply of non-perishable food, basic medical and first-aid kit, plastic bags (for your own trash disposal, you come with them, you leave with them, please leave Jakarta clean) – -There will be more details to come! – - PS: please spread the news by sending this entire post to major universities and colleges across Jakarta, Java, and Indonesia. Tweet it, facebook it, youtube it, copy it, paste it, translate it! Get involved! Our future as a nation is at stake! Remember the keyword here is: PEACEFULLY. Let’s make this a reality. Thank you very much! May God bless you and May God bless Indonesia!

Leave a Reply