Ladies and Gentlemen, Please Welcome Bill Clinton!

Posted December 14th, 2010 at 10:52 pm (UTC+0)
1 comment

Presiden Barack Obama dan mantan Presiden Bill Clinton di ruang briefing Gedung Putih, Jumat, 10 Desember 2010. (AP Photo/J. Scott Applewhite)

Presiden Barack Obama dan mantan Presiden Bill Clinton di ruang briefing Gedung Putih, Jumat, 10 Desember 2010. (AP Photo/J. Scott Applewhite)

Dari dulu saya “naksir” Bill Clinton. Di tahun 90an ketika kebanyakan perempuan seusia saya saat itu tertarik bintang Hollywood seperti Val Kilmer dan Emilio Estevez, saya tergila-gila Bill Clinton, terutama setelah (diharuskan) mempelajari kebijakannya untuk mata kuliah Politik Global AS di jurusan Hubungan Internasional FISIP-UI. Itu sebabnya saya selalu senang setiap kali mantan Presiden ini kembali masuk berita, baik itu berita ringan seperti ketika ia mantu putrinya Chelsea atau berita serius dan mencengangkan seperti kemunculannya yang tiba-tiba di Gedung Putih minggu lalu.

Sungguh peristiwa yang gurih bagi penggemar politik. Presiden AS yang ke-44, Barack Obama, babak belur dihantam dari kanan (Partai Republik), kiri (kubu liberal dan partainya sendiri, Partai Demokrat) dan dari segala arah (sebagian besar rakyat Amerika) berpaling ke Bill Clinton, Presiden AS yang ke-42, politisi ulung, tokoh karismatik dan dicintai rakyat.

Presiden Barack Obama tiba untuk jumpa pers mengenai pemotongan pajak di Gedung Putih, Senin, 13 Desember 2010 (AP Photo/J. Scott Applewhite)

Presiden Barack Obama tiba untuk jumpa pers mengenai pemotongan pajak di Gedung Putih, Senin, 13 Desember 2010 (AP Photo/J. Scott Applewhite)

Ini bermula dari kompromi yang dilakukan Presiden Obama dengan kubu Republik, untuk memperpanjang potongan pajak era Presiden Bush bagi seluruh rakyat Amerika, termasuk kaum berada. Padahal ketika kampanye presiden dulu, kandidat Obama bersumpah menghapus keringanan pajak untuk orang kaya. Menurut Obama kompromi ini dilakukan untuk mendapat persetujuan Republikan yang kini menguasai Kongres, terhadap serangkaian program pemerintah untuk kelas menengah, termasuk tunjangan bagi pengangguran. Langkah ini mengundang amarah dari kubu liberal serta politisi partai Demokrat. Di sinilah Presiden Obama berpaling ke Clinton. Setelah bertemu pribadi, Obama membawa Clinton ke ruang konpers. Kata Obama, “Mengingat Presiden Clinton menjabat selama masa ekonomi tangguh, ada baiknya kita minta pendapatnya.”. Obama kemudian menyerahkan podium kepada Clinton yang bicara panjang lebar, menekankan bahwa kompromi ini harus dilakukan dan bahwa ia pun akan melakukan hal yang sama kalau saat ini menjabat. Sementara Clinton, seorang yang gemar dan lihai berada dalam sorotan publik memukau wartawan, Presiden Obama berdiri di pinggir panggung untuk akhirnya pamit sepuluh menit kemudian dengan alasan ditunggu istrinya kondangan Natal.

Sebegitu terpojokkah Obama? Tak cemaskah ia bahwa ia akan kelihatan lemah dan tak berdaya di samping Presiden Clinton yang tampak lebih matang dan kompeten? Lupakah ia bahwa salah satu alasan mengapa ia tak jadi mengangkat Hillary Clinton yang kini menjabat Menlu sebagai WaPres adalah karena semua orang akan bingung soal peran suami Hillary. Belum pernah dalam sejarah Amerika seorang mantan Presiden jadi suami WaPres. Bayangkan betapa canggung  suasana Gedung Putih, apalagi mengingat Bill adalah orang yang tak mungkin duduk diam di kursi belakang. Sudahkah pula Obama melupakan pertikaian pribadi antara mereka di tahun 2008? Ketika itu kampanye sengit antara Hillary Clinton dan Obama membuat hubungan Bill dan Barack ikut tegang.

Tapi kini, Bill Clinton dengan starpower/kharisma dan pengalaman politiknya menjadi penasihat tak resmi dan asisten serba bisa bagi Obama. Ini bukan kali pertama Obama minta bantuan Clinton. Selama masa pemilu sela kemarin Bill Clinton seolah menjadi “Michael Clayton” bagi Obama, seorang /troubleshooter /pelurus masalah/penggalang dana/pelobi politik di balik layar. Kali inipun tampaknya Barack Obama sungguh kuatir Kongres memblokir RUU potongan pajak ini dan membuat pemerintahan lumpuh sehingga ia rela menelan gengsinya. Berikut transkrip konpers mereka minggu lalu:

http://www.whitehouse.gov/the-press-office/2010/12/10/remarks-president-obama-and-former-president-clinton

Saya tunggu komentar anda. Salam dari Washington!

*Blog ini berisi opini penulis yang tidak mencerminkan pendapat maupun posisi editorial VOA.

Diplomasi Internasional, Sopan di Depan Comel di Belakang.

Posted November 30th, 2010 at 10:27 pm (UTC+0)
3 comments

Situs WikiLeaks membuat para diplomat AS kebakaran jenggot.

Seperti apa sosok diplomat di bayangan Anda? Seseorang yang berpenampilan dan berkelakuan rapi, bertutur sopan dengan senyum meyakinkan senantiasa terpampang? Seseorang yang paham table manners, di meja makan bisa membedakan garpu yang harus digunakan untuk makanan pembuka dan penutup, di meja perundingan lihai menata ucapan sehingga negosiasi berjalan mulus?

Insiden hari Minggu kemarin menunjukkan betapa menipunya gambaran tersebut.  Diplomacy, is a dirty business after all.

Minggu sore kemarin, saya tengah di mobil melintas jalan tol I-95 dari New Jersey kembali ke Washington, DC sepulang dari libur akhir pekan Thanksgiving.  Seperti biasa radio saya terpanteng di National Public Radio, radio publik yang kerap mengangkat berita internasional. Di situlah saya dibuat tercengang akibat berita terakhir mengenai Wikileaks, LSM yang menerbitkan dokumen-dokumen dari sumber rahasia dan anonim, biasanya yang menuduh adanya penyelewengan di pemerintahan dan korporasi. Sejak diluncurkan tahun 2006, situs Wikileaks telah memuat sekitar 12 juta dokumen tersebut. Namun, yang membuat Hillary Clinton kebakaran jenggot (jenggot metaforik tentunya) adalah 250.000 dokumen terakhir yang tak lain adalah kabel diplomatik rahasia dari berbagai kedutaan besar AS di seluruh dunia. Dokumen-dokuman ini memberikan gambaran gamblang mengenai urusan dapur diplomasi internasional yang selama ini terjadi di balik layar; rumit, semrawut, penuh intrik, negosiasi di bawah meja dan gosip mengenai para tokoh dunia.

Penasaran? Berikut beberapa contoh tuduhan yang tersirat dari dokumen-dokumen ini:
- Pemimpin Saudi Arabia, Raja Abdullah diam-diam pernah mendesak AS menyerang Iran untuk menghentikan program nuklirnya.
- Washington pernah mendesak Saudi Arabia untuk menjanjikan China sumber energi jangka panjang jika Beijing mau ikut menekan Tehran.
- Menlu Clinton pernah memerintahkan para diplomatnya untuk memata-matai diplomat PBB.
- Operasi militan Sunni, termasuk Al Qaida ditopang penyandang dana Saudi Arabia.
- Pemerintah Rusia terkait erat dengan kelompok mafia di negara tersebut.
- Pemerintah China dalang di balik upaya hacking komputer global.
- Presiden Afghanistan Hamid Karzai adalah pemimpin yang lemah dan paranoid.
- Kanselir Jerman Angela Merkel tak suka ambil resiko dan jarang kreatif.
- Vladimir Putin dan Silvio Berlusconi terlibat bromance, sering memberikan hadiah mewah dan kontrak bisnis gemuk.
- Pemimpin Libya Muammar Ghadafi selalu bepergian didampingi “suster Ukraina pirang montok.”

Phew!

Simak segmen Pojokan DC di Delta FM bersama Farhan dan Patsy di bawah ini:

Kini kita tahu bahwa kebocoran ini sudah diketahui pemerintah AS sebelumnya, namun Washington tidak memiliki landasan hukum untuk menghentikan Julian Assange, pendiri Wikileaks untuk merilis informasi ini. Selama beberapa minggu kemarin Menlu Hillary Clinton sibuk menelpon para pemimpin dunia terkait, untuk memperingatkan mereka dan menegaskan bahwa kabel-kabel ini merupakan laporan diplomatik mentah dari lapangan serta tidak mencerminkan kebijakan pemerintah AS. Pemerintah Obama dan politisi dari kedua kubu di Washington, Demokrat dan Republik, telah mengecam Wikileaks dan Julian Assange, serta menyatakan kebocoran ini membahayakan nyawa banyak orang di seluruh dunia dan mengganggu kepentingan strategis AS dan negara-negara lain.

Meski kasus ini membuat geleng-geleng kepala, namun bagi orang yang paham dunia diplomasi ini bukan hal baru. Hubungan apapun, apalagi hubungan serumit dan sarat kepentingan dan resiko antar negara, pasti tak lepas dari intrik. Jadi meski ini kasus memalukan bagi negara-negara yang terlibat, namun dunia diplomasi akan terus berjalan seperti biasa. Mungkin yang berubah hanyalah tingkat keamanan yang diterapkan pada komunikasi diplomatik ini untuk mencegah hacking dan kebocoran di masa depan. Seperti yang dikatakan oleh seorang analis politik internasional Professor Michael Cox,  “Diplomats have always said rude things about each other in private, and everyone has always known that.”

Salam dari Washington!

*Blog ini berisi opini penulis yang tidak mencerminkan pendapat maupun posisi editorial VOA.

Kapan Ya, AS Berhenti Perang?

Posted November 22nd, 2010 at 1:16 pm (UTC+0)
3 comments

Sebuah konvoi melintasi dataran di Kandahar, dekat sebuah markas militer AS. Foto diambil dari dalam kendaraan lapis baja. (AP Photo/Brennan Linsley)

KTT NATO di Lisabon akhir pekan kemarin menghasilkan kesepakatan penting; tenggat pengalihan pengamanan dari pasukan AS dan NATO ke pasukan Afghanistan, yaitu antara Juli 2011 hingga Desember 2014. Di KTT Lisabon, untuk pertama kalinya Presiden Obama menyatakan, bagi AS Desember 2014 merupakan batas akhir penempatan pasukan tempur di Afghanistan. Ini berarti 13 tahun sejak dilancarkannya Operation Enduring Freedom oleh pasukan AS dan Inggris sebagai reaksi atas serangan 11 September 2001, yang menandai awal perang AS di Afghanistan. Namun bukan berarti AS akan sepenuhnya menarik pasukan dari Afghanistan; sebagian akan tetap tinggal untuk melakukan apa yang disebut sebagai mendukung pasukan Afghanistan dalam ‘misi pelatihan dan kemanusiaan’.

Di dalam negeri, muncul kecurigaan dari kubu liberal bahwa tenggat baru Desember 2014 ini menunjukkan Barack Obama menyerah akibat tekanan partai Republik dan militer AS dan menggeser tenggat sebelumnya, yaitu jadwal dimulainya penarikan pasukan AS pada Juli 2011. Pihak Gedung Putih telah membantah tuduhan ini. “Presiden Obama telah mengatakan dengan jelas kita akan mulai menarik mundur pasukan Juli 2011 dan tidak ada perubahan dalam kebijakan tersebut”, menurut jubir Gedung Putih Tommy Vietor. Namun pada kenyataannya, bahasa yang digunakan oleh pihak Gedung Putih dan militer AS kini bukan lagi ‘withdrawal’ (penarikan), melainkan ‘transition’ (transisi). Beberapa Senator Republik termasuk John McCain dan Lindsey Graham juga telah mengindikasi bahwa 2014 dan bukan 2011, yang menjadi tanggal penarikan mundur pasukan secara signifikan.

Presiden Barack Obama berbicara di KTT NATO di Lisabon, Sabtu, 20 November (AP Photo/Virginia Mayo)

Pernah baca novel dystopia “1984″ karangan George Orwell? Buku ini menceritakan mengenai suatu pemerintahan oligarkis dan diktator yang menguasai pola pikir masyarakatnya dengan menggunakan ‘doublespeak’, bahasa untuk mengkonstruksi realita baru yang bertolak-belakang dengan kenyataan sebenarnya. Dalam budaya pop, istilah ‘Orwellian’ biasa digunakan untuk menggambarkan pemberian label untuk memberi kesan tertentu pada suatu obyek. Contoh favorit saya untuk fenomena ini adalah istilah “tall” yang kita gunakan untuk memesan kopi berukuran “small” di kedai kopi yang berlogo ikan duyung diapit dua bintang dengan latar belakang hijau. Nah, saya curiga istilah ‘transisi’ yang kini mulai digunakan pemerintah Obama termasuk ranah Orwellian, menggunakan istilah untuk menanamkan konteks yang diinginkan. Istilah ‘transisi’, terutama di telinga kubu konservatif pendukung partai Republik, tentu terdengar lebih bertanggung jawab dibanding ‘penarikan’ yang berkesan agak pengecut, seolah kabur sebelum menang – suatu predikat yang sering dilontarkan ke arah Presiden Obama. Di sisi lain, istilah transisi diharap dapat memuaskan basis liberal yang gerah tak sabar mengakhiri semua perang yang melibatkan negaranya. Karena istilah transisi termasuk longgar secara definisi – kalau kita artikan sebagai proses berpindah dari titik A ke titik B, selama masih ada gerakan seberapapun minimnya, maka tetap layak disebut sebagai transisi.

Inginkah Presiden Obama segera mengakhir perang? Saya yakin secara pribadi ia ingin. Penghematan biaya perang Afghanistan yang mencapai $6,7 milyar per bulan ini dapat digunakan untuk memangkas defisit anggaran AS yang terus melambung atau digunakan untuk berbagai program penciptaan lapangan kerja. Defisit bengkak dan tingkat pengangguran di atas 9,5% adalah dua batu besar penindas popularitas Obama dan penyandung kans masa jabatannya yang kedua. Namun menghentikan perang tak semudah memerintahkan perubahan prioritas anggaran. Anggaran militer AS mencapai 43% total anggaran militer semua negara di dunia (menurut perhitungan Stockholm International Peace Research Institute) sementara China di posisi kedua hanya mencapai 6,6%. Alasannya adalah kuatnya percokolan ‘military industrial complex’ di negara ini, yaitu hubungan erat dan saling menguntungkan antara pihak yang ditugaskan mengelola perang (eksekutif dan legislatif) dengan industri penghasil alat perang. Hubungan ini terjalin erat selama 50 tahun terakhir, dan bahkan seorang Barack Obama yang pasifis sekalipun tak mampu menguraikannya. Selama teori “perang untuk keuntungan” terus terbukti, AS akan terus menggunakan pendekatan dan solusi militeristik dalam hubungan internasionalnya.

Salam dari Washington!

*Blog ini berisi opini penulis yang tidak mencerminkan pendapat maupun posisi editorial VOA.

Selamat Tinggal Adidaya

Posted November 15th, 2010 at 6:58 am (UTC+0)
6 comments

Presiden Barack Obama melambaikan tangan setelah selesai menyampaikan kuliah umum di Universitas Indonesia, 10 November 2010.

Kasihan Presiden Obama. Letih belum terobati dari kunjungannya ke Asia, sudah harus menangkis berbagai kritik dalam negeri yang menuduh bahwa lawatan ini tidak produktif dan pemborosan semata. Selama kunjungannya pun khususnya di forum G-20 Seoul, Presiden Obama harus menelan kenyataan pahit bahwa AS Amerika bukan lagi superpower bahkan mungkin sudah didepak keluar dari klub adidaya dunia.

Sadar akan keresahan rakyat Amerika yang gerah dengan defisit dan tingkat pengangguran yang terus tinggi, Gedung Putih mem-branding kunjungan ke Asia ini sebagai upaya membuka pasar bagi produk Amerika sehingga menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Tampak betapa seminggu kemarin Presiden Obama mengemban tugas menjadi “salesman-in-chief” untuk promosi bisnis Amerika. Di India, cukup berhasil. Tercapai sekitar 20 kesepakatan bisnis antara perusahaan AS dan India yang menurut Gedung Putih mencapai nilai total 10 milyar dolar. Namun sukses di India tak bisa diikuti di Korea Selatan. Presiden Obama yang dianggap simpatik ini tak mampu meyakinkan Seoul untuk membuka pasarnya bagi daging sapi dan otomotif AS yang juga bisa membawa tambahan ekspor senilai 10 milyar dolar bagi AS. Bahwa kesepakatan yang tercantum dalam agenda kunjungan kenegaraan tak tercapai, tentu menjadi suatu tamparan politik dan diplomatik bagi Obama.

Lalu isu mata uang China. Selama ini AS mengeluh China memelihara nilai mata uang Yuan di tingkat terlalu rendah, sehingga produk ekspor China di pasar internasional murah. Di forum G-20 Presiden Obama gagal menekan Presiden Hu Jintao untuk mengubah kebijakan ini dan gagal meyakinkan pemimpin G-20 lainnya untuk menggunakan bahasa yang lebih tegas mengenai isu mata uang ini dalam komunike bersama. Justru langkah pelonggaran Bank Sentral AS yang menyuntikkan 600 milyar dolar dituduh sebagai suatu bentuk manipulasi mata uang. Di akhir forum G-20, Obama gagal memperoleh dukungan untuk mengambil langkah tegas mengatasi defisit perdagangan AS dengan China yang kini mencapai 227 milyar dolar.

Intinya? Meski populer sebagai pribadi, bahkan seorang Obama pun tak mampu mengubah realita politik internasional bahwa perimbangan kekuasaan telah bergeser. Pamor dan daya AS makin menyurut. Pemerintah dan warga Amerika harus menyesuaikan diri dengan kenyataan ini.

*Blog ini berisi opini penulis yang tidak mencerminkan pendapat maupun posisi editorial VOA.

Halo Indonesia!

Posted September 16th, 2010 at 3:34 pm (UTC+0)
6 comments

Sebagai warga Washington yang tenggelam dalam kehidupan kerja dan pribadi sehari-hari, seringkali saya lupa bahwa saya tinggal di kota yang sangat dinamis di mana senantiasa terjadi peristiwa-peristiwa yang menjadi sorotan internasional. Itu sebabnya mulai minggu ini saya menulis blog “Pojokan DC,” yang akan merangkum kejadian-kejadian penting ini untuk catatan saya sendiri, dan juga untuk anda, pembaca yang tertarik akan isu politik AS dan internasional.

  • Page 2 of 2
  • <
  • 1
  • 2