Aku Tionghoa

Posted January 31st, 2012 at 3:39 am (UTC+0)
12 comments

Kiriman: Andreas, 29 Januari 2012

“Aku. Aku warga Negara Indonesia. Aku Tionghoa. Aku cinta Indonesia. Aku merayakan Imlek. Tetap aku duta bangsaku. Kita berbeda, tapi kita satu.

Berdasarkan artikel berita dan video VOA, Senin, 23 Januari 2012, “Masyarakat Asia dan Dunia Sambut Tahun Baru Imlek” tentang perayaan masyarakat dunia merayakan Tahun Baru Naga.”

Baca di:  http://beltub.blogspot.com/2012/01/hi.html

12 responses to “Aku Tionghoa”

  1. Ilham says:

    Udah 2012 tapi masih tetap ya mempermasalahkan ras. Imlek kemarin aku dan temanku juga mampir ke kampung Cina di Pekanbaru. Rame bangeeeet!:D Byk orang-orang pribumi ikutan nonton. Walaupun aku ga ikut merayakan Imlek tapi seru aja bisa ngeliat gimana sih orang-orang Cina di kotaku dalam suasana Imlek. Mereka biasanya pakai baju apa, apa aja yang dilakukan, trus kebiasaan”apa yang suka dilakukan ketika Imlek.

  2. Hendri Candra says:

    Tulisan di blog yang berjudul “Aku Tionghoa” sedikit memberikan gambaran bagaimana masih kentalnya perbedaan di segi budaya dan bahasa terhadap masyarakat minoritas etnis Tionghoa di Indonesia. Sebagai etnis ketiga terbanyak, status dan kedudukannya masih simpang siur. Bagi sebagian pribumi, etnis Tionghoa masih distatuskan sebagai perantauan, padahal semestinya kita semua ini adalah bangsa Indonesia etnis Tionghoa. Dan bagaimana penulis di dalam blognya menggambarkan sekilas perlakuan serupa serta penggunaan bahasa terhadap etnis Tionghoa yang tidak semestinya digunakan sangat menarik sekali untuk direnungkan bersama. Jadi, hargailah keberagaman, itulah Bhinneka Tunggal Ika.

  3. Robin says:

    Nice article…

    I do agree with you, especially in Indonesia, a country who believe in unity in diversity, we should have stopped any kind of racism…

    USA and Indonesia have the same belief… In America, we believe E Pluribus Unum, means Out of many, one. While in Indonesia we believe in Bhinneka Tunggal Ika which means Unity in Diversity…

    Good luck for your study in Madison… Learn as many good things as possible… 🙂

  4. Yau" says:

    Well, zaman 1998 pernah aku rasakan juga. berondok dibawah ranjang dengan temen-temen les sampai-sampai ada yang nangis ketakutan. ya begitulah Indonesia zaman dulu.

    Indonesia punya Bhinneka Tunggal Ika, seharusnya semua Indonesian juga musti memiliki sifat Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. “Hey Indonesia.. kita tionghoa berkewarganegaraan Indonesia”. jadi we are part of Indonesia also, janganlah ada perbedaan suku dan ras lagi.

    Mari bersatu Indonesia ! dan DUNIA !

    For mr. Andre.. CIa yo ! Banggakan Indonesia ! Wish the best for you. 🙂

  5. stanley says:

    well, what a nice story that i get from this article..

    from this i know how racism still goes around among us, especially in certain country..

    btw, i wish from this story we as Chinese may not hate them, instead try and get close to them and found out why they hate us so much and we all are the same and we all one unity.

    🙂 …have a nice day all…

  6. Hanna Tanjung says:

    Miris sekali melihat fakta diskriminasi yang dialami masyarakat Tionghoa Indonesia. Salahkah terlahir sebagai WNI dengan kulit kuning dan mata sipit? Kita semua sama-sama cinta merah putih kan?
    Ko Andreas, hanya yang berpikiran terbukalah yang akan terus maju. So please keep fighting for what you believe is right and be true to your self. 你要加油啊,我祝福你 🙂

  7. Muhammad Anta Kusuma says:

    Cerita yang menarik. Sudah gak jaman lihat orang dari penampakan luar.

  8. Rachid says:

    Excellent article!
    I like the way you describe about unity in diversity!
    Indonesia is a very diverse country. Although we are different but we are one. One Indonesia. One Heart. One Love. Viva Indonesia! 🙂

  9. Juko Pratama L says:

    Aku benci rasisme. Sekarang ini mulai terlihat kembali rasisme di Indonesia, tidak tahu kapan manusia ini mau sadar. Terkadang bukan kami suku tiong hua mau kesal atau benci melihat suku mayoritas di Indonesia tetapi kelakuan dari sebagian besar suku kalianlah yang membuat kami menjadi tidak suka kepada kalian. Kemarin di Medan baru saja terjadi demo karena mesjid mau digusur. Padahal mesjid itu bisa digusur karena pihak pengelola mesjid yang telah menjual tanahnya, tetapi pendemo malah menuliskan 1 mesjid digusur, 1000 rumah cina kami bakar. Saya rasa itu benar – benar keterlaluan. Saya harap Indonesia benar – benar bisa menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika secara baik dan benar, bukan hanya menjadi slogan angin semata. Love ur blog dude…;)

  10. Adithya says:

    Pluralisme. Suatu hal yang sangat indah bagi orang yang bisa memaknainya dengan bijak. Memang butuh proses dan waktu, tapi semoga dengan benih2 murni penuh kasih sayang, kita bisa menyebarkan hal ini tanpa menyakiti pihak manapun. disaat kita yakin dan percaya, semua akan terasa indah. Great post bro. keep posting ok

  11. Ooh.., i loooove Indonesiaaa… dimana lagi gw bisa menemukan makanan seenak rendang, lontong sayur, soto, sambal belacan, kalo bukan di negara tercinta Indonesia… ^_^

    Mengenai sara di Indonesia, hal yang paling utama dibutuhkan sebenarnya adalah “kesadaran” dari masing-masing pribadi. Kenapa harus ada perbedaan disana sini, toh yang sudah terlihat jelas bahwa kita sama adalah, “kita sama-sama manusia” terlepas dari perbedaan yang ada seperti warna kulit, mata, atau apapun lah itu namanya. Mungkin artikel seperti ini mesti disebarkan di khalayak ramai di Indonesia agar warga Indonesia baik yang pribumi maupun non-pribumi bisa lebih menyadari dan mengubah apa yang sedang berlangsung disekitarnya saat ini.

    STOP RACISM !!!! and Let’s Build a Better Indonesia. =D

    and what a nice article, gratz ND ! 😉

  12. Oscar says:

    A good article to read and to understand, and it was based on a true story. It is remembering me of a short movie `Aku Bukan Cina` that talked less and more about the existence of race discrimination in Indonesia.

    It is not the time for that silly thing anymore, because we are one Indonesia. I was born and raised up in an Indonesian-Chinese family, and I am an Indonesian, and I proud of it.

    Nasi goreng varies from village to urban, generation over generation, and passing by so many families with its value and uniqueness. We may find it as Nasi Goreng Pete, Nasi Goreng Ikan Asin, Nasi Goreng Hokkian, Nasi Goreng Kampung, Nasi Goreng Cakalang, and so on. But it is still Nasi Goreng, and we love Nasi Goreng. Diversity colors our life. Let`s respect each other, understand each other, and love each other. Aku Cinta Indonesiaku….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *